Diketahui ada beberapa kisah orang yang sudah dipastikan meninggal dunia, bahkan sudah dikuburkan, tapi bisa bangkit dari kematian. Dan berikut ini adalah orang-orang yang bisa bangkit dari kubur.
1. Tangan yang Melambai di Kuburan
Peristiwa ini terjadi di Sao Paolo, Brazil, ketika seorang wanita yang tidak diketahui namanya sedang mengunjungi makam keluarganya. Tiba-tiba ia mendengar suara erangan yang mengerikan diikuti dengan tangan yang melambai-lambai dari dalam tanah. Akhirnya sang wanita pun melapor kepada polisi dan petugas medis. Usut punya usut, tangan tersebut ternyata adalah tangan pria korban pemukulan yang dikubur hidup-hidup oleh pelakunya.
Aneh, Sudah 29 Tahun Meninggal Hidup Kembali
jadinya jika orang yang sudah meninggal dunia selama 29 tahun hid
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/harjasaputra/aneh-sudah-29-tahun-meninggal-hidup-kembali_55280bea6ea834dd128b457d
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/harjasaputra/aneh-sudah-29-tahun-meninggal-hidup-kembali_55280bea6ea834dd128b457d
Mencermati Beberapa Mitos tentang Kematian
SEPANJANG sejarah, manusia telah
dibuat bingung dan khawatir oleh prospek kematian yang suram. Terlebih
lagi, rasa takut akan kematian telah dikobarkan oleh kombinasi berbagai
gagasan agama palsu, kebiasaan populer, dan kepercayaan pribadi yang
berurat-berakar. Yang menjadi masalah sehubungan dengan rasa takut akan
kematian adalah hal itu dapat melumpuhkan kesanggupan seseorang untuk
menikmati kehidupan dan mengikis keyakinan seseorang bahwa kehidupan ini
bermakna.
Agama populer paling patut dicela
karena telah menyebarluaskan sejumlah mitos populer tentang kematian.
Dengan memeriksa beberapa mitos ini berdasarkan sudut pandang kebenaran
Alkitab, pastikanlah apakah persepsi pribadi Saudara tentang kematian
dapat diperjelas.
Mitos 1: Kematian adalah akhir alami dari kehidupan.
”Kematian . . . merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita,” kata buku Death—The Final Stage of Growth. Komentar
seperti ini mencerminkan kepercayaan bahwa kematian adalah wajar, akhir
alami dari semua organisme hidup. Akibatnya, kepercayaan demikian
mendukung timbulnya filosofi nihilisme dan perilaku oportunistis dalam
diri banyak orang.
Tetapi, apakah kematian memang akhir
alami dari kehidupan? Tidak semua peneliti beranggapan demikian.
Misalnya, dalam sebuah wawancara, Calvin Harley, seorang biolog yang
meneliti penuaan manusia, mengatakan bahwa ia tidak percaya bahwa
manusia ”diprogram untuk mati”. Imunolog William Clark berkomentar,
”Kematian tidaklah mutlak menjadi bagian kehidupan.” Dan, Seymour
Benzer, dari California Institute of Technology, mengatakan dengan
serius bahwa ”penuaan dapat lebih cocok didefinisikan bukan sebagai jam
melainkan sebagai skenario, yang kita harap dapat diedit”.
Sewaktu para ilmuwan mempelajari
rancangan tubuh manusia, mereka bingung. Mereka menemukan bahwa kita
telah dikaruniai sumber daya dan kesanggupan yang jauh melebihi
kebutuhan jangka hidup kita yang berkisar antara 70 hingga 80 tahun.
Misalnya, para ilmuwan telah menemukan bahwa otak manusia memiliki
kapasitas memori yang sangat besar. Seorang peneliti memperkirakan bahwa
otak kita dapat menyimpan informasi yang ”dapat mengisi sekitar dua
puluh juta jilid buku, sebanyak buku di perpustakaan-perpustakaan
terbesar dunia”. Beberapa pakar ilmu saraf menghitung bahwa selama
jangka hidup rata-rata, seseorang hanya menggunakan 1/100 dari 1 persen
(0,0001) kapasitas potensial otaknya. Patutlah kita bertanya, ’Mengapa
kita harus memiliki otak dengan kapasitas sebesar itu sedangkan kita
hanya menggunakan sebagian kecilnya saja dalam jangka hidup rata-rata?’
Pikirkan juga betapa tidak wajarnya
reaksi manusia terhadap kematian! Bagi kebanyakan orang, kematian istri,
suami, atau anak dapat menjadi pengalaman yang paling traumatis dalam
hidup. Seluruh emosi seseorang biasanya akan terganggu untuk waktu lama
setelah kematian seseorang yang sangat dikasihinya. Bahkan, orang yang
menyatakan bahwa kematian itu wajar merasa sulit menerima gagasan bahwa
kematian mereka sendiri akan berarti akhir segalanya. British Medical Journal berbicara tentang ”praduga pakar yang umum bahwa setiap orang ingin hidup selama mungkin”.
Mengingat reaksi umum manusia
terhadap kematian, potensinya yang luar biasa untuk mengingat dan
belajar, dan keinginan batinnya untuk hidup selama-lamanya, tidakkah
jelas bahwa ia dibuat untuk hidup? Ya, Allah menciptakan manusia, bukan
untuk mati sebagai hasil akhir alaminya, melainkan dengan prospek untuk
hidup selama-lamanya. Perhatikan apa yang Allah tetapkan bagi pasangan
manusia pertama sebagai masa depan mereka, ”Beranakcuculah dan bertambah
banyak dan penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, tundukkanlah ikan-ikan
di laut dan makhluk-makhluk terbang di langit dan segala makhluk hidup
yang merayap di bumi.”
Mitos 2: Orang yang mati diambil Allah.
Seorang ibu berusia 27 tahun yang
sedang sekarat dan akan meninggalkan tiga orang anak berkata kepada
seorang biarawati Katolik, ”Jangan bilang bahwa ini kehendak Allah untuk
saya. . . . Saya benci kalau mendengar orang berkata begitu.” Namun,
inilah yang diajarkan oleh banyak agama tentang kematian—bahwa Allah
mengambil orang-orang agar berada di dekat-Nya.
Apakah sang Pencipta begitu
kejamnya sampai-sampai ia dengan tanpa perasaan mengakibatkan kematian
pada diri kita, padahal Ia tahu bahwa hal ini membuat hati kita hancur?
Tidak, tidak demikian halnya dengan Allah menurut Alkitab.”Allah adalah kasih.” Perhatikan bahwa ayat itu tidak mengatakan bahwa Allah memiliki kasih atau bahwa Allah itu pengasih, tetapi bahwa Allah adalah kasih.
Begitu kuat, begitu murni, begitu sempurna kasih Allah itu, begitu
menyeluruh kasih ini tercermin dalam kepribadian dan tindakan-Nya
sehingga Ia dapat dengan benar dikatakan sebagai personifikasi kasih. Ia
bukan Allah yang suka mengambil orang dalam kematian agar berada di
dekat-Nya.
Agama palsu telah membuat banyak
orang bingung tentang ke mana dan bagaimana keadaan orang mati. Surga,
neraka, api penyucian, Limbo—tempat-tempat ini dan tempat-tempat tujuan
lainnya menimbulkan perasaan bingung dan bahkan ngeri. Di pihak lain,
Alkitab memberi tahu kita bahwa orang mati tidak sadar; mereka berada
dalam kondisi yang mirip sekali dengan tidur.
Oleh karena itu, kita tidak perlu khawatir tentang apa yang terjadi
pada kita setelah meninggal, sebagaimana kita tidak perlu khawatir
sewaktu melihat seseorang sedang tidur nyenyak. Yesus pernah berbicara
tentang saat manakala ”semua orang yang di dalam makam peringatan” akan
”keluar” ke kehidupan yang diperbarui di bumi firdaus
Mitos 3: Allah mengambil anak-anak untuk dijadikan malaikat.
Elisabeth Kübler-Ross, yang
meneliti orang-orang yang sekarat, menyebutkan persepsi umum lain di
kalangan orang-orang religius. Sewaktu menceritakan sebuah kejadian
nyata, ia mengatakan bahwa ”tidak baik mengatakan kepada seorang gadis
kecil yang ditinggal mati adik lelakinya bahwa Allah begitu mengasihi
anak-anak kecil sehingga Ia memanggil si kecil Johnny ke surga”.
Pernyataan semacam itu menanamkan kesan yang salah tentang Allah dan
tidak mencerminkan kepribadian serta perilaku-Nya. Dr. Kübler-Ross
melanjutkan, ”Sewaktu gadis kecil ini bertumbuh menjadi wanita dewasa,
ia tidak pernah menuntaskan kemarahannya pada Allah, sehingga ia
menderita depresi mental sewaktu kehilangan putranya yang masih kecil
tiga dekade kemudian.”
Untuk apa Allah merenggut seorang
anak demi mendapat satu malaikat lagi—seolah-olah Allah membutuhkan anak
lebih dari orang tua si anak? Jika Allah memang mengambil anak-anak,
tidakkah hal itu akan menjadikan-Nya sebagai Pencipta yang tidak
pengasih dan mementingkan diri? Berlawanan dengan persepsi demikian,
Alkitab mengatakan, ”Kasih itu dari Allah.” Apakah Allah kasih akan menyebabkan kehilangan yang bahkan tidak akan ditoleransi oleh manusia yang masih bermoral?
Jadi, mengapa anak-anak meninggal? Salah satu jawaban Alkitab dicatat di ”Waktu dan kejadian yang tidak terduga menimpa mereka semua.” Dan,
memberi tahu kita bahwa kita semua tidak sempurna, berdosa, sejak dalam
kandungan, dan akhir semua manusia sekarang adalah kematian karena
berbagai sebab. Kadang-kadang, kematian menyerang sebelum kelahiran,
sehingga janin terlahir mati. Dalam kasus-kasus lain, anak-anak mati
akibat situasi yang tragis atau mengalami kecelakaan dan tewas. Allah
tidak bertanggung jawab atas hal-hal seperti ini.
Mitos 4: Beberapa orang disiksa setelah mati.
Banyak agama mengajarkan bahwa
orang fasik akan pergi ke neraka yang bernyala-nyala dan disiksa
selama-lamanya. Apakah ajaran ini masuk akal dan berdasarkan Alkitab?
Jangka hidup manusia terbatas, hanya 70 hingga 80 tahun. Bahkan
seandainya seseorang bersalah karena kefasikan yang ekstrem sepanjang
hidupnya, apakah penyiksaan abadi merupakan hukuman yang adil? Tidak. Sangatlah tidak adil jika seseorang disiksa selama-lamanya atas dosa yang ia lakukan dalam waktu hidup yang pendek.
Hanya Allah yang dapat
menyingkapkan apa yang terjadi setelah orang meninggal, dan Ia telah
melakukannya dalam Firman-Nya yang tertulis, Alkitab. Inilah yang
Alkitab katakan, ”Sebagaimana [binatang] mati, begitu juga [manusia]
mati; dan mereka semua hanya mempunyai satu roh . . . Semua menuju satu
tempat. Mereka semua dari debu, dan mereka semua kembali ke debu.”
Di sini sama sekali tidak disebutkan tentang neraka yang
bernyala-nyala. Manusia kembali ke debu—ke ketiadaan—sewaktu mereka
mati.
Supaya dapat disiksa, seseorang
harus dalam keadaan sadar. Apakah orang mati sadar? Sekali lagi, Alkitab
memberikan jawabannya, ”Yang hidup sadar bahwa mereka akan mati; tetapi
orang mati, mereka sama sekali tidak sadar akan apa pun, dan tidak ada
lagi upah bagi mereka, karena kenangan akan mereka telah dilupakan.” Mustahil orang mati, yang ”sama sekali tidak sadar akan apa pun”, mengalami rasa sakit apa pun dan di mana pun.
Mitos 5: Kematian berarti akhir permanen keberadaan kita.
Kita menjadi tidak ada sewaktu kita
mati, tetapi ini tidak berarti bahwa segala sesuatunya sudah berakhir.
Ayub sang pria beriman tahu bahwa ia akan pergi ke kuburan, Syeol,
sewaktu ia mati. Tetapi, dengarkan doanya kepada Allah, ”Oh, sekiranya
di Syeol kausembunyikan aku, sekiranya engkau merahasiakan aku sampai
kemarahanmu surut, sekiranya engkau menetapkan suatu batas waktu bagiku
dan mengingat aku! Jika laki-laki mati dapatkah ia hidup lagi? . . .
Engkau akan memanggil, dan aku akan menjawab.”
Ayub percaya bahwa jika ia setia
sampai mati, ia akan diingat oleh Allah dan pada saatnya akan
dibangkitkan. Ini kepercayaan semua hamba Allah pada zaman dahulu. Yesus
sendiri meneguhkan harapan ini dan memperlihatkan bahwa Allah akan
menggunakan dia untuk membangkitkan orang mati. Kata-kata Yesus sendiri
meyakinkan kita, ”Jamnya akan tiba ketika semua orang yang di dalam
makam peringatan akan mendengar suara [Yesus] lalu keluar, mereka yang
melakukan perkara-perkara baik kepada kebangkitan kehidupan, mereka yang
mempraktekkan perkara-perkara keji kepada kebangkitan penghakiman.”
Sangat sedikit waktu lagi, Allah
akan menyingkirkan semua kefasikan dan mendirikan suatu dunia baru di
bawah pemerintahan surgawi.
Hasilnya adalah firdaus di seluruh bumi, yang dihuni oleh orang-orang
yang melayani Allah. Di Alkitab kita membaca, ”Aku mendengar suatu suara
yang keras dari takhta itu mengatakan, ’Lihat! Kemah Allah ada di
tengah-tengah umat manusia, dan ia akan berdiam bersama mereka, dan
mereka akan menjadi umatnya. Dan Allah akan ada bersama mereka. Dan ia
akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan kematian tidak akan
ada lagi, juga tidak akan ada lagi perkabungan atau jeritan atau rasa
sakit. Perkara-perkara yang terdahulu telah berlalu.’”
Bebas dari Rasa Takut
Pengetahuan tentang harapan
kebangkitan serta pengetahuan tentang Pribadi yang merupakan sumber
persediaan itu dapat menghibur Saudara. Yesus berjanji, ”Kamu akan
mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
Hal ini termasuk membebaskan kita dari rasa takut akan kematian. Yehuwa
adalah satu-satunya pribadi yang dapat benar-benar mengubah proses
penuaan dan kematian serta mengaruniai kita kehidupan kekal. Dapatkah
Saudara mempercayai janji-janji Allah? Ya, karena Firman Allah selalu
menjadi kenyataan. Kami mendesak Saudara untuk mencari tahu lebih banyak tentang
maksud-tujuan Allah bagi umat manusia. Saksi-Saksi Yehuwa akan dengan
senang hati membantu Saudara.
[Blurb di hlm. 6]
Yang menjadi masalah sehubungan dengan rasa takut akan kematian adalah hal itu dapat melumpuhkan kesanggupan sese
Apa jadinya jika orang
yang sudah meninggal dunia selama 29 tahun hidup kembali? Ini cerita
lengkapnya.
Minggu (17/3) tersiar kabar yang menggegerkan warga Desa Pijot, Kec.
Keruak, Kab. Lombok Timur. Kabar tak biasa yang membuat warga
berduyun-duyun menuju rumah Fuan Sukma, Kades Pijot. Bukan untuk demo,
tapi untuk melihat secara dekat sosok orang yang sudah 29 tahun
meninggal lalu hidup lagi.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/harjasaputra/aneh-sudah-29-tahun-meninggal-hidup-kembali_55280bea6ea834dd128b457d ng
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/harjasaputra/aneh-sudah-29-tahun-meninggal-hidup-kembali_55280bea6ea834dd128b457d ng
Apa jadinya jika orang
yang sudah meninggal dunia selama 29 tahun hidup kembali? Ini cerita
lengkapnya.
Minggu (17/3) tersiar kabar yang menggegerkan warga Desa Pijot, Kec.
Keruak, Kab. Lombok Timur. Kabar tak biasa yang membuat warga
berduyun-duyun menuju rumah Fuan Sukma, Kades Pijot. Bukan untuk demo,
tapi untuk melihat secara dekat sosok orang yang sudah 29 tahun
meninggal lalu hidup lagi.
Namanya H. Ilyas, mantan kades Desa Pijot, ayah dari Fuan Sukma (kades
sekarang). Sudah meninggal pada tahun 1984 dan dikuburkan di desa itu.
Saya yang kebetulan sedang ada di Lombok mendengar ini merasa penasaran
juga. Kabar aneh yang layak untuk ditelusuri. Kontan saya menghubungi
teman, yang menjabat kades juga, yang dekat dengan rumah kades Pijot.
Menanyakan informasi tentang kabar ini. Ia mengatakan, kabar itu sudah
banyak versi yang tersebar di masyarakat. Ada yang bilang informasi
bohong, ada yang mengiyakan dengan bumbu-bumbu mistis, dan lainnya.
Ia kemudian memberikan nomor HP kades Pijot, agar saya hubungi langsung,
agar informasinya langsung dari sumber A1. Saya pun kemudian
menghubungi nomor yang diberikan. Hari pertama tidak bisa terhubung.
Baru hari kedua terhubung.
Fuan Sukma pun kemudian menjelaskan secara detail mengenai kabar ini:
Sekitar tahun 2010 ada orang sedesanya yang bilang bahwa di Mangalili,
Sulawesi Selatan, ia melihat sosok yang mirip sekali dengan H. Ilyas.
Kades ini tidak terlalu menanggapi kabar itu. Orang sudah meninggal
dunia pikirnya. Dua tahun kemudian, ada yang menelepon dan mengaku bahwa
dirinya H. Ilyas. Ia mengatakan tidak mungkin, karena sudah meninggal.
Lantas orang yang menelpon itu menyebutkan nama ibunya, nama
saudara-saudaranya. Ia pun menanyakan pohon kelapa yang ada di kebun
masih ada atau tidak dan menanyakan beberapa pohon yang ada di dekat
sumur rumah yang masih ada sampai sekarang. Sukma pun kaget, kok bisa
tahu. Mulailah ia agak percaya dengan pengakuan itu.
Jumat (15/3), H. Ilyas ini mendatangi rumahnya dengan menaiki kapal
Perry. Dari fisiknya banyak kesamaan, rupa, bekas luka, tinggi badan,
raut muka, dan lainnya. Hanya saja ada yang beda: warna kulit H. Ilyas
yang dulu agak hitam, namun sekarang putih. Mengenai warna kulit ini,
Sukma mengatakan kalau kulit bisa berubah-ubah.
Sukma sendiri ketika ditanya apakah dirinya yakin bahwa orang itu adalah
ayahnya yang sudah meninggal, ia bilang tidak yakin sepenuhnya. Hanya
ia berpikir positif saja.
"Saya ambil hikmahnya saja, mungkin orang ini hanya mirip dengan bapak
saya yang sudah meninggal. Mungkin juga arwah ayahnya yang masuk ke
dalam dirinya untuk mengingatkan ia pada ayahnya", kata Sukma.
Kemudian ketika ditanya apakah H. Ilyas yang sekarang bisa bahasa Sasak
(bahasa daerah Lombok) ataukah tidak. Ia bilang tidak bisa. Karena
memang dari dulu ayahnya tidak begitu lancar bicara Sasak. Sebab ayahnya
bukan asli orang Lombok, melainkan pendatang dari Sulawesi. Bahasa
sehari-hari yang digunakan adalah bukan bahasa Sasak. Hanya Sukma aja
yang lancar bahasa Lombok.
Menurut Sukma, H. Ilyas yang sekarang mengaku telah berumur 100 tahun
lebih. Mendekati dengan umur ayahnya yang pada saat meninggal 29 tahun
lalu berumur 74 tahun.
Di Koran lokal Lombok Tengah (Radar Mandalika), Senin (18/3) terlihat
ada yang menurunkan berita tentang peristiwa ini, yang memuat juga
keterangan H. Ilyas. Ketika ditanya apakah betul ia sudah meninggal. H.
Ilyas mengatakan betul ia sudah meninggal, tapi entah bagaimana, ia
tidak ingat tiba-tiba dirinya sudah ada di Mangalili, Sulsel.
Di Koran Lokal disebutkan tempatnya bukan Mangalili tapi Manggarai NTT
tapi informasi langsung dari Fuan Sukma kepada saya, di desa Mangalili,
Sulsel.
Apakah Sukma akan meminta ayahnya yang sekarang untuk tinggal ataukah
bagaimana, ia sendiri menyebutkan terserah keinginan H. Ilyas. Ia tidak
mau meminta menetap atau menyuruh pergi. Tidak juga berkeinginan untuk
test DNA misalnya, karena itu tadi, ia berpikir positif saja. Bisa saja
hanya mirip tapi arwah ayahnya yang masuk ke dalam dirinya.
Sukma menjelaskan bahwa sekarang ratusan bahkan ribuan orang datang ke
rumahnya untuk mengobati orang-orang yang datang. Mendoakan dan
sebagainya. Orang-orang ramai banyak meminta berkah sejak tersiar kabar
itu.**
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/harjasaputra/aneh-sudah-29-tahun-meninggal-hidup-kembali_55280bea6ea834dd128b457d
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/harjasaputra/aneh-sudah-29-tahun-meninggal-hidup-kembali_55280bea6ea834dd128b457d
Apa jadinya jika orang
yang sudah meninggal dunia selama 29 tahun hidup kembali? Ini cerita
lengkapnya.
Minggu (17/3) tersiar kabar yang menggegerkan warga Desa Pijot, Kec.
Keruak, Kab. Lombok Timur. Kabar tak biasa yang membuat warga
berduyun-duyun menuju rumah Fuan Sukma, Kades Pijot. Bukan untuk demo,
tapi untuk melihat secara dekat sosok orang yang sudah 29 tahun
meninggal lalu hidup lagi.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/harjasaputra/aneh-sudah-29-tahun-meninggal-hidup-kembali_55280bea6ea834dd128b457dmm
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/harjasaputra/aneh-sudah-29-tahun-meninggal-hidup-kembali_55280bea6ea834dd128b457dmm
Apa jadinya jika orang
yang sudah meninggal dunia selama 29 tahun hidup kembali? Ini cerita
lengkapnya.
Minggu (17/3) tersiar kabar yang menggegerkan warga Desa Pijot, Kec.
Keruak, Kab. Lombok Timur. Kabar tak biasa yang membuat warga
berduyun-duyun menuju rumah Fuan Sukma, Kades Pijot. Bukan untuk demo,
tapi untuk melihat secara dekat sosok orang yang sudah 29 tahun
meninggal lalu hidup lagi.
Namanya H. Ilyas, mantan kades Desa Pijot, ayah dari Fuan Sukma (kades
sekarang). Sudah meninggal pada tahun 1984 dan dikuburkan di desa itu.
Saya yang kebetulan sedang ada di Lombok mendengar ini merasa penasaran
juga. Kabar aneh yang layak untuk ditelusuri. Kontan saya menghubungi
teman, yang menjabat kades juga, yang dekat dengan rumah kades Pijot.
Menanyakan informasi tentang kabar ini. Ia mengatakan, kabar itu sudah
banyak versi yang tersebar di masyarakat. Ada yang bilang informasi
bohong, ada yang mengiyakan dengan bumbu-bumbu mistis, dan lainnya.
Ia kemudian memberikan nomor HP kades Pijot, agar saya hubungi langsung,
agar informasinya langsung dari sumber A1. Saya pun kemudian
menghubungi nomor yang diberikan. Hari pertama tidak bisa terhubung.
Baru hari kedua terhubung.
Fuan Sukma pun kemudian menjelaskan secara detail mengenai kabar ini:
Sekitar tahun 2010 ada orang sedesanya yang bilang bahwa di Mangalili,
Sulawesi Selatan, ia melihat sosok yang mirip sekali dengan H. Ilyas.
Kades ini tidak terlalu menanggapi kabar itu. Orang sudah meninggal
dunia pikirnya. Dua tahun kemudian, ada yang menelepon dan mengaku bahwa
dirinya H. Ilyas. Ia mengatakan tidak mungkin, karena sudah meninggal.
Lantas orang yang menelpon itu menyebutkan nama ibunya, nama
saudara-saudaranya. Ia pun menanyakan pohon kelapa yang ada di kebun
masih ada atau tidak dan menanyakan beberapa pohon yang ada di dekat
sumur rumah yang masih ada sampai sekarang. Sukma pun kaget, kok bisa
tahu. Mulailah ia agak percaya dengan pengakuan itu.
Jumat (15/3), H. Ilyas ini mendatangi rumahnya dengan menaiki kapal
Perry. Dari fisiknya banyak kesamaan, rupa, bekas luka, tinggi badan,
raut muka, dan lainnya. Hanya saja ada yang beda: warna kulit H. Ilyas
yang dulu agak hitam, namun sekarang putih. Mengenai warna kulit ini,
Sukma mengatakan kalau kulit bisa berubah-ubah.
Sukma sendiri ketika ditanya apakah dirinya yakin bahwa orang itu adalah
ayahnya yang sudah meninggal, ia bilang tidak yakin sepenuhnya. Hanya
ia berpikir positif saja.
"Saya ambil hikmahnya saja, mungkin orang ini hanya mirip dengan bapak
saya yang sudah meninggal. Mungkin juga arwah ayahnya yang masuk ke
dalam dirinya untuk mengingatkan ia pada ayahnya", kata Sukma.
Kemudian ketika ditanya apakah H. Ilyas yang sekarang bisa bahasa Sasak
(bahasa daerah Lombok) ataukah tidak. Ia bilang tidak bisa. Karena
memang dari dulu ayahnya tidak begitu lancar bicara Sasak. Sebab ayahnya
bukan asli orang Lombok, melainkan pendatang dari Sulawesi. Bahasa
sehari-hari yang digunakan adalah bukan bahasa Sasak. Hanya Sukma aja
yang lancar bahasa Lombok.
Menurut Sukma, H. Ilyas yang sekarang mengaku telah berumur 100 tahun
lebih. Mendekati dengan umur ayahnya yang pada saat meninggal 29 tahun
lalu berumur 74 tahun.
Di Koran lokal Lombok Tengah (Radar Mandalika), Senin (18/3) terlihat
ada yang menurunkan berita tentang peristiwa ini, yang memuat juga
keterangan H. Ilyas. Ketika ditanya apakah betul ia sudah meninggal. H.
Ilyas mengatakan betul ia sudah meninggal, tapi entah bagaimana, ia
tidak ingat tiba-tiba dirinya sudah ada di Mangalili, Sulsel.
Di Koran Lokal disebutkan tempatnya bukan Mangalili tapi Manggarai NTT
tapi informasi langsung dari Fuan Sukma kepada saya, di desa Mangalili,
Sulsel.
Apakah Sukma akan meminta ayahnya yang sekarang untuk tinggal ataukah
bagaimana, ia sendiri menyebutkan terserah keinginan H. Ilyas. Ia tidak
mau meminta menetap atau menyuruh pergi. Tidak juga berkeinginan untuk
test DNA misalnya, karena itu tadi, ia berpikir positif saja. Bisa saja
hanya mirip tapi arwah ayahnya yang masuk ke dalam dirinya.
Sukma menjelaskan bahwa sekarang ratusan bahkan ribuan orang datang ke
rumahnya untuk mengobati orang-orang yang datang. Mendoakan dan
sebagainya. Orang-orang ramai banyak meminta berkah sejak tersiar kabar
itu.**
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/harjasaputra/aneh-sudah-29-tahun-meninggal-hidup-kembali_55280bea6ea834dd128b457d
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/harjasaputra/aneh-sudah-29-tahun-meninggal-hidup-kembali_55280bea6ea834dd128b457d
Apa jadinya jika orang
yang sudah meninggal dunia selama 29 tahun hidup kembali? Ini cerita
lengkapnya.
Minggu (17/3) tersiar kabar yang menggegerkan warga Desa Pijot, Kec.
Keruak, Kab. Lombok Timur. Kabar tak biasa yang membuat warga
berduyun-duyun menuju rumah Fuan Sukma, Kades Pijot. Bukan untuk demo,
tapi untuk melihat secara dekat sosok orang yang sudah 29 tahun
meninggal lalu hidup lagi.
Namanya H. Ilyas, mantan kades Desa Pijot, ayah dari Fuan Sukma (kades
sekarang). Sudah meninggal pada tahun 1984 dan dikuburkan di desa itu.
Saya yang kebetulan sedang ada di Lombok mendengar ini merasa penasaran
juga. Kabar aneh yang layak untuk ditelusuri. Kontan saya menghubungi
teman, yang menjabat kades juga, yang dekat dengan rumah kades Pijot.
Menanyakan informasi tentang kabar ini. Ia mengatakan, kabar itu sudah
banyak versi yang tersebar di masyarakat. Ada yang bilang informasi
bohong, ada yang mengiyakan dengan bumbu-bumbu mistis, dan lainnya.
Ia kemudian memberikan nomor HP kades Pijot, agar saya hubungi langsung,
agar informasinya langsung dari sumber A1. Saya pun kemudian
menghubungi nomor yang diberikan. Hari pertama tidak bisa terhubung.
Baru hari kedua terhubung.
Fuan Sukma pun kemudian menjelaskan secara detail mengenai kabar ini:
Sekitar tahun 2010 ada orang sedesanya yang bilang bahwa di Mangalili,
Sulawesi Selatan, ia melihat sosok yang mirip sekali dengan H. Ilyas.
Kades ini tidak terlalu menanggapi kabar itu. Orang sudah meninggal
dunia pikirnya. Dua tahun kemudian, ada yang menelepon dan mengaku bahwa
dirinya H. Ilyas. Ia mengatakan tidak mungkin, karena sudah meninggal.
Lantas orang yang menelpon itu menyebutkan nama ibunya, nama
saudara-saudaranya. Ia pun menanyakan pohon kelapa yang ada di kebun
masih ada atau tidak dan menanyakan beberapa pohon yang ada di dekat
sumur rumah yang masih ada sampai sekarang. Sukma pun kaget, kok bisa
tahu. Mulailah ia agak percaya dengan pengakuan itu.
Jumat (15/3), H. Ilyas ini mendatangi rumahnya dengan menaiki kapal
Perry. Dari fisiknya banyak kesamaan, rupa, bekas luka, tinggi badan,
raut muka, dan lainnya. Hanya saja ada yang beda: warna kulit H. Ilyas
yang dulu agak hitam, namun sekarang putih. Mengenai warna kulit ini,
Sukma mengatakan kalau kulit bisa berubah-ubah.
Sukma sendiri ketika ditanya apakah dirinya yakin bahwa orang itu adalah
ayahnya yang sudah meninggal, ia bilang tidak yakin sepenuhnya. Hanya
ia berpikir positif saja.
"Saya ambil hikmahnya saja, mungkin orang ini hanya mirip dengan bapak
saya yang sudah meninggal. Mungkin juga arwah ayahnya yang masuk ke
dalam dirinya untuk mengingatkan ia pada ayahnya", kata Sukma.
Kemudian ketika ditanya apakah H. Ilyas yang sekarang bisa bahasa Sasak
(bahasa daerah Lombok) ataukah tidak. Ia bilang tidak bisa. Karena
memang dari dulu ayahnya tidak begitu lancar bicara Sasak. Sebab ayahnya
bukan asli orang Lombok, melainkan pendatang dari Sulawesi. Bahasa
sehari-hari yang digunakan adalah bukan bahasa Sasak. Hanya Sukma aja
yang lancar bahasa Lombok.
Menurut Sukma, H. Ilyas yang sekarang mengaku telah berumur 100 tahun
lebih. Mendekati dengan umur ayahnya yang pada saat meninggal 29 tahun
lalu berumur 74 tahun.
Di Koran lokal Lombok Tengah (Radar Mandalika), Senin (18/3) terlihat
ada yang menurunkan berita tentang peristiwa ini, yang memuat juga
keterangan H. Ilyas. Ketika ditanya apakah betul ia sudah meninggal. H.
Ilyas mengatakan betul ia sudah meninggal, tapi entah bagaimana, ia
tidak ingat tiba-tiba dirinya sudah ada di Mangalili, Sulsel.
Di Koran Lokal disebutkan tempatnya bukan Mangalili tapi Manggarai NTT
tapi informasi langsung dari Fuan Sukma kepada saya, di desa Mangalili,
Sulsel.
Apakah Sukma akan meminta ayahnya yang sekarang untuk tinggal ataukah
bagaimana, ia sendiri menyebutkan terserah keinginan H. Ilyas. Ia tidak
mau meminta menetap atau menyuruh pergi. Tidak juga berkeinginan untuk
test DNA misalnya, karena itu tadi, ia berpikir positif saja. Bisa saja
hanya mirip tapi arwah ayahnya yang masuk ke dalam dirinya.
Sukma menjelaskan bahwa sekarang ratusan bahkan ribuan orang datang ke
rumahnya untuk mengobati orang-orang yang datang. Mendoakan dan
sebagainya. Orang-orang ramai banyak meminta berkah sejak tersiar kabar
itu.**
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/harjasaputra/aneh-sudah-29-tahun-meninggal-hidup-kembali_55280bea6ea834dd128b457dv
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/harjasaputra/aneh-sudah-29-tahun-meninggal-hidup-kembali_55280bea6ea834dd128b457dv


Tidak ada komentar:
Posting Komentar