mitos dan fakta untuk zodian .wajib baca!! mitos indonesia dan menjadi salah satu mitos terunik di indonesia.-Apa
agan percaya ramalan bintang/ramalan astrologi? Apa agan sering melihat
hasil ramalan zodiak tiap minggu? Mungkin melihat status keuangan,
asmara, atau kesehatan?
Sebelum agan-agan terlena kata-kata indah dari ramalan astrologi atau sering disebut ramalan zodiak, ane mau kasih tau hal penting tentang astrologi. Sebenarnya apa sih ramalan astrologi itu? Mengapa sangat populer? Dari mana asalnya? Fakta atau mitos?
Oke, singkatnya nih.. lebih dari 2300 tahun yang lalu, orang Babilonia percaya
bahwa dewa-dewa tinggal di antara bintang dan benda langit serta
memiliki kekuatan untuk mengendalikan nasib manusia. Orang Babilonia membagi langit menjadi 12 rasi bintang yang sekarang kita kenal sebagai zodiak (sistem horoskop). Menurut sistem horoskop,
kepribadian dan kejadian masa depan kita dapat diketahui dari posisi
matahari, bulan, dan benda langit lainnya saat kita lahir. Semacam ada
kekuatan yang mempengaruhi kehidupan di Bumi. Ada yang bilang kekuatan
itu berupa gravitasi, elektromagnetik, dan lain-lain. Tapi kenyatannya,
benarkah seperti itu?
Astrologi vs. Astronomi
Astrologi dan Astronomi? Apa bedanya?
Jadi gini, jaman dulu pengetahuan para astronom masih sangat terbatas
mengenai benda langit, kecuali dari apa yang bisa diobservasi melalui
mata telanjang. Makanya, dulu astrologi masih digabungkan dengan
astronomi, sampai akhirnya gelieio menjadi orang pertama yang menggunakan metode ilmiah untuk menguji astrologi secara objektif.
Tapi jelas, dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat, astrologi dan astronomi bukan hal yang sama lagi. Astronomi modern
adalah studi ilmiah mengenai benda angkasa, yang ga ada hubungannya
sama sekali dengan situasi asmara atau keuangan seperti yang dikatakan
zodiak.
Tinjauan Psikologi terhadap Astrologi
Nah, kenapa kok astrologi itu kayaknya benar? Agan pernah denger gak tentang validasi subjektif?
"Validasi Subjektif" itu terjadi ketika dua peristiwa yang tidak
terkait atau acak dianggap berhubungan karena keyakinan atau ekspektasi
menuntut adanya hubungan antara dua peristiwa itu. Dengan kata lain,
kita sendiri yang menghubung-hubungkan persepsi kepribadian diri dengan
isi horoskop.
Konsep validasi subjektif diuji pertama kali oleh psikolog forer memberikan
tes kepribadian kepada siswa-siswa di sebuah kelas. Setelah itu,
hasil/analisis kepribadian dibagikan ke setiap siswa. Dia bilang ke
siswanya, kalo mereka dapet analisis yang unik (berbeda satu sama lain)
sesuai hasil tes sebelumnya. Trus, mereka diminta untuk kasih skor ke
analisis kepribadian yang mereka terima: skala 0 (sangat buruk) - 5
(sangat baik) kesesuaiannya dengan diri mereka.
Tapi ada triknya nih: setiap siswa menerima analisis yang sama persis.
Tapi, rata-rata skor penilaian siswa satu kelas terhadap analisis yang
mereka terima adalah 4,26. Menurut para siswa, analisisnya 85% akurat.
Nah lho, kok bisa analisis yang sama dianggap akurat oleh banyak orang?
Coba deh perhatikan potongan analisis yang disajikan ke siswa-siswa tersebut.
Kalimat-kalimat di atas umum banget, samar (vague), jadi bisa berlaku untuk siapa saja. Pernyataan ini disebut dengan Barnum statement.
Ini berlaku pada ramalan zodiak, kata-katanya samar, ga spesifik. Jadi bisa ngena/nge-hit siapa aja. Pisces itu katanya penuh kasih. Lah, anetau teman ane yang Capricorn juga penuh kasih. Aries itu katanya mandiri. Lah, ane (yang katanya) Pisces juga mandiri. Semua orang juga bisa bilang dirinya mandiri.
Dalam eksperimen lain, seorang astrolog Perancis yang terkenal,michael
ingin menguji profesi astrologi secara ilmiah. Ia menawarkan ramalan
horoskop individual gratis untuk setiap pembaca sebuah majalah dan
meminta feedback mereka mengenai keakuratan analisis individualnya.
Triknya sama dengan eksperimen .
ia menggunakan ramalan horoskop yang sama persis ke ribuan pembaca
dengan horoskop yang berbeda-beda. Hasilnya? 94% pembaca menjawab bahwa
ramalannya sangat akurat dan mendalam.
Ini adalah contoh validasi subjektif. Orang hanya fokus pada
bagian yang benar, yang ngena (hits) dari sejumlah analisis umum.
Astrolog mengandalkan kemampuan manusia untuk lebih mengingat "hits" dan
melupakan ramalan yang meleset (selective bias). Bahkan kalo ada
prediksi yang akurat, bisa jadi itu kebetulan belaka.
Mungkin agan bisa ngerasain sendiri ketika baca ramalan zodiak. Pas baca
kalimat yang menurut agan ga make sense, ga agan peduliin. Sekalinya
baca kalimat yang kebetulan benar dengan situasi yang sedang agan hadapi,wah bener banget
Sama juga dengan ramalan kejadian yang akan terjadi. Jika ramalan ga
terjadi, ya agan nyantai aja. Ga terlalu menghiraukan. Toh, ramalan
zodiak doang. Tapi sekalinya kebetulan tuh kejadian beneran, “Gila,
ramalan bintang ane bener!”
Efek ini terus terakumulasi dari waktu ke waktu, membuat astrologi tetap berjaya dan dipercaya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar